Merindukan Suasana, Bukan Hanya Rasa

Stasiun Kota Malang, 20 Juni 2017 pukul 20.30 WIB | Aku duduk bersandar di hall stasiun menunggu kereta Malioboro Express menuju Yogyakarta. Hari ini adalah lima hari sebelum Idul Fitri tiba. Suasana di sekitarku daritadi sudah ramai dengan orang-orang yang hendak mudik pulang kampung, sama sepertiku. Banyak orang berlalu-lalang cemas menunggu kereta tiba dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak, dan beberapa diantara yang lain lebih memilih untuk duduk berdiam dan meletakkan barang bawaannya di samping kakinya karena dirasa berat untuk terus dijinjing kesana kemari.

Kanebox

Seperti aku yang duduk di bangku panjang karena aku pun membawa beberapa bawaan yang cukup banyak. Sebelum pulang, layaknya orang melancong aku tidak lupa membeli beberapa oleh-oleh khas Kota Malang. Seperti biasa aku berbelanja di Aremafood.com yang menjadi pilihan tepat karena beberapa alasan untuk setia berlangganan di sana. Selain menyediakan paket parcel lebaran yang berisi makanan populer khas Kota Malang, juga bisa kupesan melalui smartphone supaya paket dikirim ke kos tempat aku tinggal. Jadi sangat praktis tidak perlu membuang tenaga dan waktu untuk berkeliling mencari oleh-oleh yang pas untuk saudara di rumah nanti. Harganya pun relatif lebih murah jika dibandingkan dengan tempat lain.

Terdengar dengung kereta dari kejauhan yang lama-lama semakin mendekat ke arah stasiun diikuti suara yang memberitahukan bahwa kereta yang selama ini telah kutunggu akhirnya datang juga. Spontan aku menyingsingkan lengan kiri baju untuk melihat jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 20.44 WIB. Kemudian dengan sigap berdiri sambil mengangkat barang bawaan dan berjalan berdesakan memasuki kereta. Hatiku sedikit merasa gembira karena kereta datang tepat waktu di kala lalu lintas arus mudik yang padat yang seringkali keterlambatan adalah sebuah kewajaran. Kuhempaskan pinggangku ke bangku kereta setelah mengangkat barang bawaan ke bagasi atas. Kereta melaju perlahan tanda perjalanan dimulai.

Kereta Api Malam

via wikiwand.com

Memilih untuk duduk di samping jendela adalah kebiasaanku di setiap kali aku naik kereta dan bus supaya bisa bersandar ke samping sambil melihat pemandangan di luar jendela. Sambil membetulkan posisi duduk supaya lebih nyaman dan menaikkan resleting jaket karena dingin, aku melirik perempuan yang duduk di sebelahku yang rupanya lebih memilih untuk langsung beradu dalam dunia mimpi mengusir penat sambil memakai headphone rapat-rapat. Orang ini nampaknya sebaya denganku, wajahnya cukup cantik, bulu matanya terlihat lentik dan panjang ketika matanya terpejam. Namun secantik apa dia, aku sudah memiliki orang yang aku sayangi jauh disana.

Berbeda denganku, aku lebih memilih untuk tetap terjaga menikmati suasana di dalam kereta. Suara besi yang berderit pelan, suara pelayan kereta yang sesekali mondar-mandir menawarkan kudapan dan bantal bergantian, suara orang-orang yang bercengkrama, dan goyangan lembut kereta membuatku selalu merindukan suasana syahdu seperti ini. Seperti ada bau dan suara yang khas yang membuatku kemudian terhanyut dalam lamunan. Mataku menatap kosong keluar jendela kereta sementara pikiranku sudah berada pada suasana yang sudah kurindukan.

Memotong sayur

via perutgendut.com

Di sebelah kiriku, ibu sedang membolak-balik ayam yang berlumur bumbu kuning yang menggoda. Ibukulah yang dikenal paling lezat masakannya dari kelima semua saudara perempuannya. Suara wajan yang begesekan dengan solet kayu ditambah suara letupan bumbu kuning yang mendidih mengeluarkan aroma wangi membuat perutku menjadi semakin gelisah. Tidak jauh dari tempat ibu mengolah opor ayam, ada kakak sepupuku yang sedang sibuk mengupas kentang dan wortel sambil bersenandung sesekali iseng membentuk sulur panjang kulit wortel menjadi sebuah bentuk-bentuk sebelum ibuku menegurnya supaya membuangnya di tempat sampah.

Dibelakangku ada Yu Juminten yang sedang memarut kelapa bersama adik kecilku yang merasa dirinya paling jago di dapur padahal yang dilakukan hanyalah memeras parutan kelapa hingga menjadi santan. Kemudian ada adik laki-lakiku yang melewatiku setelah mencuci bersih daun kubis yang hendak dimasak. Masing-masing memiliki kesibukan dan tugasnya sendiri.

Semua suara dan aroma yang muncul bersatu seperti membuat suatu harmoni yang aku jamin tidak akan bisa dijumpai di lain waktu. Kuliner lebaran memang benar-benar khas dan berbeda. Dan yang lebih menarik lagi adalah di setiap rumah yang merayakan lebaran pasti memiliki tradisi kuliner yang berbeda-beda suasana meski rasa yang dihasilkan tidak jauh berbeda satu sama lain. Oleh karena itu ketika satu keluarga sedang berkunjung ke rumah tetangganya, kadang menolak untuk menyantap hidangannya karena salah satunya mereka di rumah sudah memilikinya. Mengapa di setiap rumah memasak sementara yang lain saling memasakkan untuk tetangganya, tidak lain karena momen memasaknya itulah juga yang sedang dirindukan.

Opor ayam

via rumahmesin.com

Atau terkadang kita sampai hafal apa yang biasa dihidangkan di rumah ini dan itu, yang membuat kita terkadang nakal memilih-milih rumah mana yang akan diicipi masakannya karena terkenal memiliki hidangan yang enak. Ibarat zaman dahulu, kuliner lebaran sudah seperti barter lauk pauk saling mencicipi satu sama lain hasil dari masing-masing harmoni yang diciptakan antar rumah.

Tiba-tiba kepalaku merasa sakit karena terantuk kaca jendela kemudian tanganku memijit leher karena merasa pegal. Tidak berasa ternyata di sela lamunan, aku tertidur dan memimpikan apa yang disebut suasana yang harmoni. Masih ada waktu beberapa menit untuk sempat makan sahur dengan roti yang kusimpan dalam tas. Melihat roti kering yang berada di tangan kananku ini membuatku menghela nafas karena sudah tidak sabar menantikan suasana-suasana kuliner lebaran itu.

Stasiun Yogyakarta

via dijogja.wordpress.com

Sesampai di Stasiun Tugu, bergegas aku menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh. Udara Yogyakarta di pagi hari sudah seperti awal dari sebuah kisahku nanti di tahun ini di rumah. Aku yang sudah tidak sabar bergumul dalam suasana kuliner lebaran segera mengambil smartphone untuk mengabari bahwa aku sudah siap dijemput dari stasiun menuju rumah. Di seberang sana ibuku mengatakan bahwa sebelum menjemputku, akan mampir dulu untuk membeli beberapa kubis untuk dimasak. Nampaknya yang berbeda dari suasana kemarin adalah, kali ini akulah yang bertugas mencuci kubis menggantikan adikku. Suasana yang kurindukan, aku datang! Selamat Lebaran!

Enggar Abdillah N.

 

Ini adalah pemenang juara 1 lomba artikel “Kuliner Lebaran Versimu” yang diadakan oleh Aremafood.com. Selamat ya!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *